Kamis, 25 Desember 2014

Biografi singkat H. Zainuri

H. Zainuri lahir di desa padangan, bojonegoro. Pada tahun 1904 putra dari KH. Thohir, sedangkan ibunya bernama Muslimah, ayahnya seorang yang tekun dalam menjalankan syariat islam, tiap waktu selalu memberi ceramah / pengajian disekitar kampung dan sekelilingnya. Mempunyai sebuah musholla yang disediakan untuk para santri dan anak kampung yang ingin belajar ilmu pengetahuan tentang agama islam.
    Saat berusia 5 tahun beliau dibimbing ayahnya mengaji, dan setelah mencapai dewasa beliau menuntut ilmu di pondok pesantren lasem, dan di Langitan Widang, Tuban. Pada tahun 1925 M beliau berangkat ke makkah untuk menunaikan ibadah haji (selama 6 bulan), beliau diberangkatkan oleh ayahnya sendiri. Sepulang dari makkah ibunya, muslimah meninggal dunia Kemudian ayahnya menikah lagi dengan seorang ibu yang bernama aminah dari sedayu, gresik. Dari pernikahan tersebut lahir anak yang bernama Maskup yang mewarisi rumah dan musholla di padangan sampai sekarang. KH.Thohir meninggal dunia pada tahun 1937 dan dikebumikan di padangan.

Risalah Buku Silsilah yang ditulis oleh H. A. Rifai pada tahun 1988.

Pada tahun1926 beliau menginjak usia 22 tahun dan menikah dengan seorang perempuan dari babat yang bernama Musyarafah anak dari H.Mashadi (seorang pedagang yang mampu dari segi ekonomi). Karena beliau senang mempunyai menantu dari keturunan kyai, beliau dibuatkan musholla (Darus Salam) di muka rumahnya yang sampai sekarang masih ada bahkan direhab / diperbaiki oleh anak cucu beliau.
    Menurut para sesepuh nama asli H.Zainuri semula adalah mustamin, dan diganti setelah beliau pulang dari tanah suci makkah. Perlu dijadikan teladan bagi anak cucu beliau bahwa selama hidupnya, beliau sangat menyukai para alim ulama, beliau juga sering berkunjung ke ulama-ulama serta para kyai dengan tujuan menghormati jasa-jasa mereka yang telah menyiarkan agama islam. Beliau juga sering meminta fatwa dan juga petunjuk agar selalu berjalan dijalan yang diridhoi Allah SWT. H.Zainuri meninggal pada usia 73 tahun. Ketika beliau akan menghembuskan nafas yang terakhir, beliau masih sempat untuk mengumpulkan anak-anaknya dan memberi wasiat :
   

    A. Anak-anakku, Jangan lupa untuk selalu menjalankan sholat lima waktu, dan jangan sekali-kali meninggalkan sholat.
    B. Anak-anakku,  Jagalah kerukunan antar saudara dan keluarga.
   
    Dengan tuntunan kalimah thoyyibah  serta iringan bacaan Alquran yang selalu dibacakan anak-anak beliau, akhirnya beliau berpulang ke rahmat Allah, yang insyaAllah berpulang dengan keadaan khusnul khatimah. Amin.

Makam H.Zainuri & Hj.Hindun di desa Karangasem Babat.


Beliau wafat pada tanggal 2 juli 1976 / 14 rabiul awal 1397 dan disemayamkan di pemakaman Desa Karang asem, Babat. H.Zainuri meninggalkan putra-putri sebagai berikut :
a. pernikahan dengan ibu musyarafah     : 15 anak
b. pernikahan dengan ibu hindun      : 5 anak
    Dan semua berjumlah 20 anak.
Sejak H.Zainuri ditinggal wafat oleh ibunya, beliau menetap di Babat untuk memenuhi kewajiban berumah tangga dan tinggal bersama istrinya musarafah binti H.Mashadi.
    Karena kota babat termasuk daerah yang strategis untuk perdagangan, beliau mulai berkecimpung dalam usaha perdagangan. Sedikit demi sedikit beliau melangkah untuk mencari kemajuan dan akhirnya sukses dalam usaha berdagang. Adapun usaha yang diperdagangkan termasuk bahan kain batik, hasil bumi seperti, palawija, tembakau, dan juga hasil ternak sapi. Beliau supel dalam bergaul dan juga berdagang.
    Ditengah kesibukan berdagang, beliau tidak pernah melupakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan dalam syariat agama islam, seperti sholat lima waktu, beramal, shodaqoh, dan zakat. Beliau juga selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah SWT.
    Kehidupan itu jika diibaratkan seperti air laut, tidaklah tetap dan sewaktu-waktu gelombang akan datang. Pada tahun 1948 ibu musarafah, istri beliau meningal dunia karena sakit mendadak, atau sekarang ini disebut sakit jantung. Setelah ibu musarafah meninggal, kesedihan masih menyelimuti beliau. Kemudian beliau lebih sering untuk sowan kepada para kyai untuk meminta fatwa, saran serta petunjuk yang baik yang sesuai dengan syariat agama islam yang bersumber dari alquran dan assunnah.
    Beliau mendapat saran dari para kyai untuk menikah lagi. Dan  empat bulan setelah kepergian ibu musarafah, beliau menikah dengan perempuan bernama Siti yang berasal dari Tuban. Tetapi, hanya dalam waktu 1 tahun beliau bercerai.
    Setelah beberapa bulan, beliau menikah lagi dengan perempuan yang bernama Hindun, yang berasal dari cepu. Dari hasil pernikahan tersebut mereka dikaruniai tiga anak putra dan dua anak putri, yaitu :
1. Abdul Muis
2. Munir
3. Murfiatin
4. Muflichah
5. Abdul Hamid

Alhamdulillah berkat pertolongan Allah SWT dan juga jasa serta bimbingan H.Zainuri dan kedua istrinya semua sanak keluarga dapat hidup rukun dan damai.

Remaja Bani H. Zainuri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar